Posted by: giftedindonesia | June 19, 2008

2 Puisi Karya anak Gifted-Bagian 2

Apa yang akan terjadi jika Tuhan adalah salah satu diantara kita ?

Bagian 2

Kawan, apa yang akan terjadi seandainya Tuhan adalah salah satu diantara kita ?,

ya, hanya salah satu seperti kita yang norak namun mengaku faqih ini,

ya, hanya salah satu seperti kita yang bergelantungan didalam bis kota dan angkutan umum setiap harinya untuk mencari sesuap nasi untuk dibawa pulang ke rumah ?

ya, hanya salah satu seperti kita yang selalu mencoba mengais peruntungan setiap harinya untuk anak, istri, dan keluarga kita ?

ya, hanya salah satu seperti kita yang tak segan menumpahkan darah sesama karena semata soal perbedaan penafsiran atas makna suatu teks keagamaan ?

Sementara surga senantiasa menjanjikan suatu yang menyilaukan, atau justru memabukkan ?

dan, ketika kumandang Adzan memanggil tak satupun diantara kita yang bergegas menghampirinya,

kecuali sang wali suci nan tulus hati,

yang kini sungguh amat sulit kita temui sekadar buat silaturrahmi untuk melepas lara hati..

Puisi diatas adalah salah satu karya anak Gifted yang diforward ke saya pada tanggal 17 Juni 2008. Menurutnya puisi tersebut awalnya adalah saduran bebas yang dibuatnya dari lirik lagu karya Joan Osborne yang bertajuk “ What if God was One of Us “. Dalam email-nya ia menyatakan kegundahannya yang sangat dalam atas berbagai peristiwa dan fenomena kekerasan yang akhir-akhir ini ditunjukkan oleh sebagian anak bangsa ini. Betapa kini semakin mudah manusia mengklaim kebenaran hanya sebagai miliknya, golongannya, dan sektenya. Sementara pada saat yang bersamaan mereka juga tak segan untuk mengintimidasi, meneror, dan bahkan menghukum mati orang atau kelompok yang dinilainya sesat. Sedihnya, negara kini seolah tak berdaya dan terkesan tak bisa bersikap tegas menghadapi kebrutalan yang dikemas atas nama Tuhan dan Agama ini.

Atas permintaan ybs maka nama anak Gifted tersebut tak dapat saya cantumkan disini.

 

 

Posted by: giftedindonesia | June 19, 2008

2 Puisi Karya Anak Gifted

Apa yang akan terjadi jika Tuhan adalah salah satu diantara kita ?

Bagian 1

Kawan, seandainya Tuhan punya nama, kiranya sebutan macam apakah itu ?

dan bagaimana engkau akan memandang ke wajahnya ?

Akankah engkau memandangnya dengan penuh ketakjuban atas segala ke-Maha Agungan-Nya ?,

atau justru engkau akan memandang-Nya dengan penuh keraguan atas segala ke-Maha Adilan-Nya ?

Kawan, jika hanya satu pertanyaan yang boleh engkau tanyakan pada-Nya, kiranya hal apakah itu ?

Kawan, seandainya Tuhan menampakkan wajahnya, kiranya akan seperti apakah rupanya ?

Dan, seperti apa pula yang ingin engkau lihat dari penampakan-Nya ?

Kawan, jika engkau menganggap bahwa bisa melihatnya adalah syarat untuk mempercayai keberadaan-Nya,

dan juga syarat untuk mempercayai segala ke-Maha Kuasaan-Nya,

maka apakah engkau akan berjanji untuk memperbaiki segala perilaku burukmu selama ini jika hal itu dapat kau alami ?

Ya, Dialah Tuhan Sang Maha Besar.

Ya, Dialah Tuhan Sang Maha Kasih.

 

Posted by: giftedindonesia | May 15, 2008

Gifted Events

“Menyingkap Realitas Dibalik Mitos Anak-anak Berbakat Istimewa
(Gifted Children)”.

Punya tingkat kecerdasan di atas rata-rata pasti harapan setiap orang, tapi… bagaimana dengan kemampuan jenius atau gifted? Sebenarnya apa yang disebut dengan jenius?

Ada beberapa hal yang sering dilekatkan pada orang-orang yang disebut jenius, misalnya :
Orang-orang jenius malah biasanya under achivement di sekolah…..
Orang-orang jenius biasanya adalah orang-orang yang bahagia, populer dan punya penyesuaian diri yang baik di sekolah….
Orang-orang jenius adalah orang-orang yang nyeleneh di lingkungannya….
Benarkah orang-orang jenius bisa ditempatkan dalam kelas yang sama dengan anak-anak biasa……….
Dan banyak pertanyaan lain yang muncul, tapi benarkah demikian?

Siapakah orang-orang di sekitar kita yang bisa kita anggap jenius? Apakah Ahmad Dhani? Sudjiwo Tedjo? Gus Dur? Tariq dan Ilham habibie? Atau tokoh Matilda karangan Roald Dahl? Atau tokoh John Nash dalam film Beautiful Mind?

Temukan Jawabannya dalam Talk show pada :
Selasa, 20 Mei 2008 , Pkl 09.00 – 13.00 wib
Café Classic, Jl. Naripan No. 48 Bandung

Pembicara :
Ir. Sumiharso, CBA, Center for Giftedness and Intelligence Studies (CGIS)
Dra. Alva Handayani, S.Psi (Psikolog)
Ir. Neni Utami Adiningsih, MT (Team Kurikulum Independen Diknas dan Penulis buku cerita anak-anak)

Moderator & Pembawa Acara

Moderator : Tina Talisa (News Anchor TV ONE Jakarta)
Pembawa acara : Popi Puspita (Announcer Mustika FM Bandung)

Biaya
Biaya Rp. 75.000/peserta, peserta akan mendapat sertifikat, snack, produk dari sponsor dan doorprize

Tempat Pendaftaran
1. TB.Reading Lights, Jl. Siliwangi No. 16 Bandung
2. Transfer melalui Bank BCA kcp Sumber Sari a.n. Sari Aneta no 1571257675 (bukti transfer difax ( 022 ) 4261368

Penyelenggara
Basyc Community
Jl. Cihampelas No. 36
Bandung – Jawa Barat

Telp. ( 022 ) 7095 2045 Fax ( 022 ) 4261368
e-mail. Basyc_gifted@yahoo.com
C.p Ahmad (022) 70952045
Sari (022) 92134059

Posted by: giftedindonesia | April 23, 2008

KARAKTERISTIK ANAK BERBAKAT ISTIMEWA (GIFTED CHILD)

Anak-anak berbakat istimewa secara alami memiliki karakteristik yang khas yang membedakannya dengan anak-anak normal. Karakteristik ini mencakup beberapa domain penting, termasuk di dalamnya : domain intelektual-koginitif, domain persepsi-emosi, domain motivasi dan nilai-nilai hidup, domain aktifitas, serta domain relasi sosial. Berikut disarikan beberapa karakteristik yang paling sering diidentifikasi terdapat pada anak berbakat istimewa pada masing-masing domain diatas. Namun demikian perlu dicatat bahwa tidak semua anak-anak berbakat istimewa (gifted) selalu menunjukkan atau memiliki semua karakteristik yang disebutkan di dalam daftar ini.

Karakteristik Intelektual-Kognitif
  1. Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinal, gagasan-gagasan yang tidak lazim, pikiran-pikiran kreatif.
  2. Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu konsep yang utuh.
  3. Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi.
  4. Mampu menggeneralisir suatu masalah yang rumit menjadi suatu hal yang sederhana dan mudah dipahami.
  5. Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah.
  6. Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa.
  7. Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan mampu mengartikulasikannya dengan baik.
  8. Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-kata.
  9. Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan.
  10. Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat.
  11. Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains.
  12. Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat.
  13. Banyak gagasan dan mampu menginspirasi orang lain.
  14. Memikirkan sesuatu secara kompleks, abstrak, dan dalam.
  15. Mampu memikirkan tentang beragam gagasan atau persoalan dalam waktu yang bersamaan dan cepat mengaitkan satu dengan yang lainnya.

Karakteristik Persepsi/Emosi

  1. Sangat peka perasaannya.
  2. Menunjukkan gaya bercanda atau humor yang tidak lazim (sinis, tepat sasaran dalam menertawakan sesuatu hal tapi tanpa terasa dapat menyakiti perasaan orang lain).
  3. Sangat perseptif dengan beragam bentuk emosi orang lain (peka dengan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang-orang lain).
  4. Memiliki perasaan yang dalam atas sesuatu.
  5. Peka dengan adanya perubahan kecil dalam lingkungan sekitar (suara, aroma, cahaya).
  6. Pada umumnya introvert.
  7. Memandang suatu persoalan dari berbagai macam sudut pandang.
  8. Sangat terbuka dengan pengalaman atau hal-hal baru
  9. Alaminya memiliki ketulusan hati yang lebih dalam dibanding anak lain.
Karakteristik Motivasi dan Nilai-Nilai Hidup
  1. Menuntut kesempurnaan dalam melakukan sesuatu (perfectionistic).
  2. Memiliki dan menetapkan standar yang sangat tinggi bagi diri sendiri dan orang lain.
  3. Memiliki rasa ingin tahu dan kepenasaran yang sangat tinggi.
  4. Sangat mandiri, sering merasa tidak perlu bantuan orang lain, tidak terpengaruh oleh hadiah atau pujian dari luar untuk melakukan sesuatu (self driven).
  5. Selalu berusaha mencari kebenaran, mempertanyakan dogma, mencari makna hidup.
  6. Melakukan sesuatu atas dasar nilai-nilai filsafat yang seringkali sulit dipahami orang lain.
  7. Senang menghadapi tantangan, pengambil risiko, menunjukkan perilaku yang dianggap “nyerempet-nyerempet bahaya” .
  8. Sangat peduli dengan moralitas dan nilai-nilai keadilan, kejujuran, integritas.
  9. Memiliki minat yang beragam dan terentang luas.
Karakteristik Aktifitas
  1. Punya energi yang seolah tak pernah habis, selalu aktif beraktifitas dari satu hal ke hal lain tanpa terlihat lelah.
  2. Sulit memulai tidur tapi cepat terbangun, waktu tidur yang lebih sedikit dibanding anak normal.
  3. Sangat waspada.
  4. Rentang perhatian yang panjang, mampu berkonsentrasi pada satu persoalan dalam waktu yang sangat lama.
  5. Tekun, gigih, pantang menyerah.
  6. Cepat bosan dengan situasi rutin, pikiran yang tidak pernah diam, selalu memunculkan hal-hal baru untuk dilakukan.
  7. Spontanitas yang tinggi.
Karakteristik Relasi Sosial
  1. Umumnya senang mempertanyakan atau menggugat sesuatu yang telah mapan.
  2. Sulit melakukan kompromi dengan pendapat umum.
  3. Merasa diri berbeda, lebih maju dibanding orang lain, merasa sendirian dalam berpikir atau pada saat merasakan suatu bentuk emosi.
  4. Sangat mudah jatuh iba, empatik, senang membantu.
  5. Lebih senang dan merasa nyaman untuk berteman atau berdiskusi dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua.

 (Disarikan dari berbagai sumber).

Posted by: giftedindonesia | April 17, 2008

SETIAP ANAK ADALAH ANAK GIFTED (BERBAKAT ISTIMEWA), BENARKAH ?

Adalah benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya di luar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan.

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.

Asal muasal istilah Gifted

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.

Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140. Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk ”Gifted Children, Their Nature and Nurture” . Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa untuk dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu.

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :

“ Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ” (The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang diperbaharui pada tahun 2003. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.

Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan dari universitas Quebec di Kanada. Menurutnya istilah gifted (potensi istimewa) dan talenta (bakat yang telah berkembang secara sistematis) adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan potensi istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan (natural abilities).
Kemampuan atau potensi alami (Natural Abilities)
Gagné mengajukan 4 domain keberbakatan istimewa yang menurutnya sangat bersifat gentik, yaitu :
• Domain kemampuan intelektual seperti : kemampuan penalaran, mengingat, pengamatan, penilaian situasi, dan meta kognisi
• Domain kreatifitas seperti : imajinasi, orisinalitas, dan kelancaran ide.
• Domain sosio afektif, seperti : perceptiveness, kemampuan berkomunikasi (empati dan diplomasi), dan kemampuan mempengaruhi.
• Domain sensori motor, seperti : kepekaan panca indra, kekuatan fisik, dan koordinasi alat gerak tubuh.

Sedangkan Talenta atau bakat yang telah berkembang secara sistematis adalah bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal.

Talenta (Talents)
Talenta dalam konsepsi Gagne adalah bidang-bidang prestasi dimana potensi atau kemampuan alami (natural abilities) akan dapat mewujud. Bidang-bidang prestasi ini antara lain adalah (namun tidak terbatas pada daftar di bawah ini) :
• Bidang akademik,
• Bidang seni,
• Bidang usaha (bisnis),
• Bidang hoby atau kesenangan,
• Bidang hubungan antar manusia,
• Bidang olahraga,
• Bidang teknologi.

Untuk dapat berkembang atau muncul kedalam bentuk talenta maka potensi istimewa yang bersifat alami ini perlu mendapatkan apa yang oleh Gagne disebut sebagai faktor pemercepat (catalyst factor). Selanjutnya Gane merumuskan bahwa faktor pemercepat teresebut terbagi menjadi 3 :

1. Faktor pemercepat dari dalam diri (intra personal catalyst), yang mencakup beberapa karakteristik yang dimiliki oleh individu berbakat istimewa yang dapat berpengaruh secara positif maupun negatif terhadap proses belajar anak berbakat istimewa tersebut. Karakteristik ini antara lain :
• Kondisi fisik seperti faktor kesehatan,
• Motivasi atau dorongan untuk berprestasi,
• Kemampuan mengelola emosi,
• Sifat-sifat kepribadian (temperamen, kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi dll).

2. Faktor pemercepat dari luar diri (interpersonal atau environmental catalyst). Gagné menyebut ada 4 faktor pemercepat utama yang sangat berpengaruh terhadap proses pengembangan bakat istimewa menjadi talenta yang telah berkembang :
• Milieu (budaya lingkungan tempat tinggal, keluarga).
• Individu atau orang lain.
• Program dan fasilitas .
• Kejadian-kejadian yang dialami selama kehidupan.

Peluang (Chance)

Faktor terakhir yang mempengaruhi kemunculan keberbakatan istimewa adalah faktor peluang. Peluang disini diartikan oleh Gagne sebagai faktor genetika atau keturunan. Dengan kata lain yang akan menentukan kepemilikan dan dalam domain mana keberbakatan istimewa si anak akan muncul adalah faktor gen kedua orang tuanya.

Posted by: giftedindonesia | April 17, 2008

Selamat Datang di Dunia GIFTED…

Assalamualaikum ….

Pengunjung giftedindonesia.wordpress.com yang saya hormati,

Pertama-tama, sungguh tak ada ungkapan yang pantas saya sampaikan selain ucapan rasa “ terima kasih yang tak terhingga “ atas waktu luang dan kesediaan anda semua untuk mengakses weblog ini (selanjutnya saya sebut dengan blog saja).

Blog ini, sebagaimana namanya yaitu “ gifted indonesia ” adalah sebuah blog yang sengaja saya create untuk mewadahi gairah dan kegundahan pribadi saya atas beragam persoalan, kepenasaran, kesimpang-siuran, dan kontroversi mengenai tema gifted. Istilah gifted itu sendiri jika boleh saya mencari padanannya dalam bahasa Indonesia maka saya akan lebih memilih menerjemahkannya sebagai BAKAT ISTIMEWA. 

Kedua, dari lubuk hati saya yang paling dalam saya sangat berharap blog ini dapat menjadi ruangan kelas kita bersama untuk saling belajar dan berbagi. Belajar untuk memperkaya wawasan dan berbagi pengalaman. Atau bahkan mungkin berbagi kecakapan dalam memahami, menangani, dan membantu individu-individu gifted.

Ketiga, seperti kata pepatah “ tak ada gading yang tak retak “, kiranya demikian pula dengan blog ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa mungkin tampilan blog ini di sana-sini masih kurang menarik atau mungkin content-nya yang belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan anda. Maka tentu saja sebagai penanggungjawab blog ini saya meminta kesediaan anda semua untuk legowo memberikan feedback kepada saya guna perbaikannya. Insya Allah, secara rutin saya akan terus memposting artikel, hasil-hasil kajian, renungan, observasi, dan pengalaman praktis saya berkaitan dengan dunia gifted. Sejalan dengan itu berbagai informasi terbaru mengenai teori, hasil-hasil riset, dan praktek-praktek terbaik dalam bidang gifted dari berbagai penjuru dunia juga akan senantiasa saya share dengan anda semua. Harapan saya berbagai informasi yang dapat anda temukan di dalam blog ini dapat bersirkulasi ke kalangan yang lebih luas sehingga mampu memberikan manfaat praktis bagi siapapun yang berkepentingan dengan bidang gifted.

Terakhir, bilamana anda ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai seluk beluk dunia gifted, anda dapat menghubungi saya :

Sumiharso

Direktur Center for Giftedness and Intelligence Studies ( CGIS )

Email : sumiharso.netcompany@gmail.com

Phone : 62-22-7008 2600

Wassalamualaikum…

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.